Komisi III: KPK Bukan Kumpulan Para Malaikat

Pernyataan-pernyataan sinis terhadap KPK bergulir di rapat kerja DPR bersama Kejaksaan Agung, Polri, dan KPK. KPK berkali-kali disebut sebagai institusi bukan malaikat, termasuk oleh Ketua Komisi III Benny Kabur Harman.

“Jelaslah KPK bukan sarang malaikat, ada juga penyamunnya,” ujar Benny dalam sidang di ruang Komisi III DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2009).

Sebelumnya, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat Edi Ramli Sitanggang juga menyatakan hal serupa. Edi menyatakan ini semua berawal dari perbuatan oknum KPK bernama Antasari Azhar yang pada akhirnya meninggalkan bom waktu.

“Makanya saya bilang KPK bukan malaikat. Secara institusi, tidak ada makelar kasus (markus) di sana. 100 Biri-biri bisa dijaga, tapi manusia tidak bisa,” katanya.

Anggota Komisi III juga menyerukan agar para penegak hukum di tiga institusi dapat berkoordinasi dan mengenyampikan ego. “Jadi
kalau tujuan untuk persoalan bangsa, nggak perlu ego ditunjukkan,” kata Edi.

Source : detik.com

Iklan
Published in: on November 18, 2009 at 12:52 pm  Comments (1)  
Tags: , , , , , , ,

Wajah Ketua MPR RI

TKpimpinsidangSebagaimana yang dijadwalkan, hari ini, Selasa 20 Oktober 2009 pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2009-2014 di selenggarakan dengan meriah di Gedung MPR RI¹.

Sidang ini di pimpin oleh Taufiq Kiemas selaku Ketua MPR RI² 2009-2014.

Taufiq Kiemas untuk pertama kalinya memimpin sidang MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wapres 2004-2009. Mungkin karena baru pertama kali, TK tampak belepotan memimpin sidang.

Saat membacakan pidato menjelang pembukaan sidang paripurna, berulang kali TK salah sebut. Misalnya saat mengabsen presiden dan wapres terpilih dan para mantan. Setelah menyebut Boediono, dia langsung menyebut Wapres ke-6 Try Sutrisno.

“Maaf terlewat Yang Terhormat Wapres Presiden Muhammad Jusuf Kalla,” ujar TK mengoreksi. Acara sidang pun sempat terhenti beberapa detik dengan sedikit keriuhan.

TK juga salah menyebut BJ Habibie sebagai mantan wapres ketiga, seharusnya mantan presiden ketiga. Mendengar itu, Habibie yang duduk di kursi hadirin tampak tersenyum lebar pada hadirin yang ada di kiri kanannya. “It’s okey,” kata ahli pesawat itu dengan gaya khasnya.

Saat TK memperkenalkan para tamu negara, juga terdengar keunikan, seperti membaca Mister dengan Mester, W yang seharusnya dibaca double U dibaca W double. Sidang paripurna yang dihadiri 647 anggota MPR ini dimulai pukul 10.00 WIB.

Source : detik.com

Demikianlah tadi wajah Ketua MPR kita selaku Rakyat Indonesia 😦
Mudah-mudahan ini bukanlah awal dari ke’blepot’an beliau dalam memimpin lembaganya selama 5 tahun kedepan. Amin

Published in: on Oktober 20, 2009 at 10:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , , ,

SBY, Jangan Senang Dulu

sbyKoalisi bentukan Partai Demokrat dan SBY yang terdiri dari Partai Golkar, PKB, PKS, PAN, PPP dan Partai Demokrat sendiri dianggap menguntungkan pihak SBY. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, Jumat (16/10). Tetapi SBY jangan senang dulu dengan koalisi besar tersebut, karena meskipun tidak ada partai besar yang menjadi Oposisi maka rakyat sendiri akan lebih hebat dari DPR di senayan. Seperti halnya yang terjadi pada Marcos dan Soeharto.

Kontrak politik yang dilakukan lima parpol besar hanya menguntungkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kontrak tersebut tujuan utamanya adalah untuk saling dukung misi dan kepentingan parpol.

“Namun, sebagai partai pemenang, posisi tawar terbesar dan keputusan mutlak tetap di tangan Demokrat atau SBY,” kata Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, Jumat (16/10)

“Jadi, dalam hal ini SBY dan Partai Demokrat membuat kontrak yang akan memuluskan kepentingan dalam masa pemerintahannya,” imbuh Sofyan. Dia mengatakan, kontrak politik pasti memuat klausul terkait posisi atau kursi jabatan yg diminta oleh parpol koalisi.

Kontrak politik dengan parpol koalisi, kata dia, bukan berarti tidak ada kontrol terhadap roda pemerintahan. Reformasi telah melahirkan kebebasan berbuat, berbicara, dan sikap reaksioner terhadap pemerintah.

“Dengan kontrak politik seharusnya apabila terdapat kebijakan atau program yang dinilai tidak sesuai, seharusnya dimusyawarahkan dan tidak dilempar ke publik,” kata dia. Hal itu, kata Sofyano, harus jadi poin-poin pokok dalam kontrak politik, sehingga tidak hanya fokus soal jatah menteri atau jabatan saja.

“Dengan tidak adanya oposisi juga tidak perlu ditakutkan karena kontrol dan keberadaan rakyat lebih hebat dari kekuatan parpol yang masuk Senayan,” kata Sofyano “Ingat kasus jatuhnya Marcos dan Soeharto. Ini yang harus diperhitungkan,” tegas dia.

Source : republika.co.id

Saatnya rakyat kembali bersuara ketika wakil di DPR sudah tidak lagi punya nyali untuk menyuarakan nurani rakyat. Kalau perlu peristiwa Mei ’98 periode II harus dikumandangkan. Merdeka !!!!

Published in: on Oktober 16, 2009 at 4:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , , , , ,

PDIP Jalur Oposisi

pdi-p

Setelah banyaknya partai-partai yang berpindah haluan menjadi “kawan” SBY, seperti Golkar, tidak demikian dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai dengan gambar moncong benteng ini akan tetap berada dijalur Oposisi. Hal ini di pertegas oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri seperti di kutip detik.com

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyayangkan adanya keinginan sebagian elit PDIP yang ingin masuk Kabinet SBY. Sebab tindakan tersebut melenceng dari tujuan partai, yakni memperjuangkan aspirasi rakyat.

“Saya sangat menyanyangkan adanya keinginan sebagian elit partai yang ingin masuk dalam kabinet. Itu hanya kepentingan pribadi sesaat,” jelas Megawati seperti dituturkan staf khususnya, Arie Junaidi kepada detikcom di kediaman
Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Selasa (13/10/2009).

Ketua Umum PDIP itu juga meminta 94 anggota DPRI RI dari PDIP untuk mandiri tidak terpengaruh dengan anggota-anggota DPR dari partai-partai yang  berkoalisi dengan pemerintah.

Hal senada juga dikatakan Wakil Sekjen DPP PDIP Agnita Singedekane. Menurutnya, keinginan sebagian kecil elit PDIP sangat bertolak belakang dengang arus bawah.

“Kami di bawah sangat solid karena semangat partai memang dimiliki kader militan. berbicara PDIP tidak selalu digambarkan nafsu berkuasa dari segelintir pengurus partai,” tandasnya.

Ditambahkan Agnita, jika memang elit PDIP yang ingin gabung di kabinet mau konsekuen, hendaknya mereka keluar dari PDIP. Karena dalam amanat Rakernas PDIP beberapa waktu lalu, DPP PDIP sudah memutuskan untuk memilih jalan oposisi.

Source : detik.com

Selamat berjuang PDIP….!!!
Rakyat bersama kalian jika kalian membela rakyat.
Merdekaaaaa….!!!

Published in: on Oktober 13, 2009 at 11:23 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , , , ,